KABARENERGI.COM – PT Terminal Teluk Lamong (TTL), anak perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas, kembali mengukuhkan kiprahnya di industri kepelabuhanan internasional. Perusahaan yang mengelola terminal petikemas di kawasan Surabaya ini berhasil meraih dua penghargaan bergengsi dalam ajang Global Ports Forum (GPF) Awards 2026 yang berlangsung di Pullman Singapore Orchard, Singapura.
Dua penghargaan tersebut yakni Port/Terminal of the Year – South East Asia 2026 untuk PT Terminal Teluk Lamong dan Port/Terminal Visionary of the Year 2026 yang diberikan kepada Direktur Utama TTL, David P. Sirait.
Penghargaan ini menjadi pengakuan internasional atas keberhasilan transformasi TTL dalam meningkatkan kinerja operasional, memperkuat daya saing, mengembangkan inovasi layanan, serta membangun terminal petikemas modern yang mengedepankan teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan kepuasan pelanggan.
Kedua penghargaan diserahkan langsung oleh Executive Chairman of the Global Ports Forum, Thomas Ng, dan diterima David P. Sirait bersama jajaran manajemen serta perwakilan TTL.
David mengatakan, penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi seluruh insan perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan daya saing di tingkat global.
“Penghargaan ini merupakan apresiasi sekaligus motivasi luar biasa bagi kami untuk terus meningkatkan daya saing di tingkat global. Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh insan TTL, kepercayaan pelanggan, serta dukungan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” ujar David.
Transformasi Operasional Dongkrak Kinerja Terminal
Capaian internasional tersebut tidak terlepas dari transformasi bisnis dan operasional yang terus dilakukan TTL selama lima tahun pascamerger Pelindo.
Perusahaan memperkuat integrasi terminal, meningkatkan produktivitas, mempercepat digitalisasi proses pelayanan, serta mengembangkan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan pengguna jasa.
Saat ini, TTL mengelola tiga terminal petikemas dalam satu kesatuan operasional, yakni TPK Teluk Lamong, TPK Nilam, dan TPK Berlian. Integrasi tersebut menjadi strategi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, memperkuat konektivitas logistik, serta mengoptimalkan pemanfaatan aset kepelabuhanan di kawasan Surabaya.
Hasil transformasi itu terlihat dari pertumbuhan kinerja TTL Group. Hingga Agustus 2026, arus petikemas tercatat mencapai 2.027.914 TEUs atau meningkat 12,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, arus petikemas internasional mencapai 389.682 TEUs, tumbuh signifikan sebesar 78,69 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didukung penambahan layanan pelayaran baru, penguatan layanan terminal, serta berbagai inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan kepastian pelayanan.
Sejumlah inovasi yang diterapkan antara lain Terminal Booking System (TBS), pengembangan sistem pelayanan kapal EAZI, serta penguatan perencanaan dan pengendalian operasional secara terintegrasi.
Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat waktu pelayanan, mengurangi waktu tunggu kapal dan petikemas, meningkatkan produktivitas terminal, sekaligus menghadirkan layanan yang semakin andal dan kompetitif.
Perkuat Green Port dan Smart Terminal
Selain mengejar peningkatan produktivitas, TTL juga terus mengembangkan konsep green port dan smart terminal sebagai bagian dari transformasi menuju pelabuhan modern dan berkelanjutan.
Sebagai salah satu pelopor terminal petikemas semiotomatis di Indonesia, TPK Teluk Lamong telah mengimplementasikan sejumlah teknologi modern, seperti Automated Stacking Crane (ASC), Automated Gate System, serta Optical Character Recognition (OCR) untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi proses operasional.
Dari aspek lingkungan, perusahaan memperkuat program green port melalui elektrifikasi peralatan, pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan, pengembangan fasilitas shore power, serta peningkatan pengelolaan lingkungan dalam aktivitas terminal.
Modernisasi juga dilakukan pada terminal lain yang dikelola TTL, termasuk melalui penambahan electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG) di TPK Nilam.
Berbagai langkah tersebut menjadi upaya perusahaan untuk memastikan pertumbuhan bisnis dan peningkatan produktivitas berjalan beriringan dengan efisiensi energi, keselamatan kerja, serta perlindungan lingkungan.
Dorong Kolaborasi dan Pemberdayaan Masyarakat
David menegaskan, keberhasilan TTL tidak hanya ditentukan oleh besarnya volume petikemas maupun kecanggihan teknologi. Kepercayaan pelanggan, dukungan regulator, kemitraan, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan juga menjadi faktor penting dalam membangun keunggulan terminal.
Menurutnya, kualitas pelayanan harus tercermin dari konsistensi operasional, kemampuan memberikan nilai tambah kepada pelanggan, serta keberlanjutan hubungan kerja sama.
“Penghargaan ini merupakan refleksi dari kerja sama tim, kepercayaan pelanggan, dan dukungan kuat seluruh stakeholder. Kami meyakini bahwa keberhasilan sebuah terminal dibangun melalui kolaborasi, inovasi, serta komitmen untuk terus memberikan pelayanan yang lebih baik,” ungkap David.
Di sisi lain, TTL juga berupaya memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Program pemberdayaan masyarakat, peningkatan keterampilan, pengembangan usaha lokal, hingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, transformasi TTL tidak hanya berorientasi pada peningkatan kinerja bisnis, tetapi juga menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.
Dua Penghargaan Internasional Jadi Motivasi TTL
Global Ports Forum Awards merupakan ajang penghargaan internasional yang memberikan apresiasi kepada perusahaan, operator terminal, serta profesional industri kepelabuhanan atas kontribusi mereka dalam pengembangan layanan, inovasi, kepemimpinan, dan keberlanjutan sektor maritim.
Bagi TTL, keberhasilan meraih dua penghargaan pada 2026 semakin memperkuat komitmen perusahaan untuk melanjutkan transformasi sebagai bagian dari Pelindo Group.
Ke depan, perusahaan akan terus berfokus pada peningkatan operational excellence, pengembangan layanan berbasis teknologi, penguatan kolaborasi dengan pelanggan, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam setiap proses bisnis.
David menegaskan, penghargaan internasional bukanlah tujuan akhir, melainkan dorongan untuk terus melakukan perbaikan dan menghadirkan nilai tambah bagi industri logistik nasional.
“Excellence is not a destination, it is a journey,” tegasnya.
Semangat tersebut menjadi landasan PT Terminal Teluk Lamong untuk terus menghadirkan layanan terminal petikemas yang semakin hijau, cerdas, efisien, dan berorientasi pada pelanggan.
Melalui transformasi berkelanjutan, TTL diharapkan mampu memperkuat posisi pelabuhan Indonesia dalam jaringan logistik internasional sekaligus meningkatkan daya saing sektor kepelabuhanan nasional di tingkat global. (OGB)



