KABARENERGI.COM – Perluasan jaringan gas bumi (jargas) rumah tangga digencarkan pemerintah untuk penyediaan energi bersih dan menekan impor LPG.
Fokus utamanya meliputi target ratusan ribu sambungan rumah, skema kerja sama, serta pengurangan subsidi negara.
Target pemasangan jargas pada tahun 2026 mencakup sekitar 160.000 sambungan rumah yang dikerjakan secara bertahap.
Secara nasional, akumulasi pelanggan rumah tangga telah melampaui 900.000 sambungan yang tersebar di berbagai wilayah.
PGN Sales and Operation Region (SOR) III pun gencar melakukan perluasan jargas di area Jawa Timur, seperti di kawasan Kabupaten/Kota Pasuruan, Kabupaten/Kota Probolinggo dan Kabupten Lumajang.
Perluasan jaringan gas untuk rumah tangga di kawasan sebagian wilayah Tapal Kuda ini sudah dilakukan sejak tahun 2023.
Ernawati, warga RT I/RW VIII, Desa Melawang, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang mengaku kepincut menjadi pelanggan jargas karena banyak manfaat yang ia dapatkan.
Perempuan berhijab ini menjadi pelanggan jargas bumi PGN sejak tahun 2023.
“Jargas gak kenal habis, tinggal nyalakan kompornya saja. Jadi kita nggak kerepotan keluar rumah untuk beli,” kata Ernawati, Senin (3/8/2026).
Sebelumnya, Ernawati kerap mengalami kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram, terutama ketika stok langka saat momen-momen tertentu seperti menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Dulu sering sekali kehabisan gas. Bahkan busa terjadi malam-malam atau waktu subuh. Mau beli juga susah, harus ke SPBU yang jaraknya jauh dari rumah. Apalagi saat gas subsidi langka, pasti ramai dan sering tidak kebagian,” curhatnya.
Menurut Ernawati, sejak menggunakan gas bumi, aktivitas memasak menjadi jauh lebih mudah.
Ia tidak lagi direpotkan mencari tabung gas ataupun mengangkat tabung LPG ketika habis.
“Alhamdulillah, sejak pakai gas bumi manfaatnya banyak. Tinggal tekan kompor langsung menyala. Tidak perlu bingung cari gas melon lagi dan tidak perlu angkat-angkat tabung,” katanya.
Ernawati yang sehari-hari membuka warung kopi dan makan di rumahnya itu juga mengaku jika penggunaam gas bumi, jauh lebih irit.
Ernawati mencontohkan, saat masih menggunakan LPG, ia membutuhkan empat tabung 3 kg tiap bulannya.
Kalau per tabung harganya Rp 20 ribu maka ia menghabiskan Rp 80 ribu untuk kebutuhan gas dalam sebulan.
“Sekarang sejak pakai jargas, saya hanya bayar Rp 38 ribu. Paling banyak ya sekitar Rp 56 ribu,” ujarnya.
Kemudahan pembayaran sebagai pelanggan, juga diakui Ernawati membuatnya semakin mantab menggunakan jargas.
Menurut Ernawati, tagihan dapat dibayar melalui transfer sehingga tidak menyulitkan pelanggan.
Selain itu, PGN juga telah memberikan sosialisasi serta menyediakan layanan pengaduan apabila terjadi gangguan.
“Bayarnya tinggal transfer, tidak repot. Dulu juga sudah disosialisasikan, kalau ada gangguan tinggal menghubungi nomor yang sudah disediakan. Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah ada kendala,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Susiana. Ia mengaku mulai memasang jaringan gas setelah mendapat informasi dari ketua RT pada 2023.
Keputusan itu diambil karena pasokan LPG 3 kilogram sering kosong, terutama saat permintaan meningkat menjelang hari besar keagamaan.
“Waktu itu Pak RT menawarkan pemasangan jargas. Soalnya gas elpiji sering kosong, apalagi menjelang Lebaran. Stok sedikit, yang mencari banyak. Sekarang pakai gas bumi lebih enak karena tidak ribet, apinya juga lebih besar,” ujar Susiana.
Sementara itu, warga lainnya, Sultan, mengatakan sempat tidak mendapatkan jatah alokasi pemasangan gas bumi di tahun 2023 karena saat itu berdomisili di luar daerah rencana alokasi pemasangan gas bumi, kemudian ia pindah domisili.
Setelah memperoleh sambungan gas bumi, ia merasakan banyak kemudahan dibandingkan menggunakan elpiji.
“Gas bumi lebih praktis karena tidak perlu lagi membawa tabung. Untuk rumah tangga, tagihan saya rata-rata hanya sekitar Rp 21 ribu sampai Rp 27 ribu per bulan,” katanya.
Area Head PGN Pasuruan, Mochamad Arif menjelaskan pengembangan jaringan gas di area Pasuruan yang meliputi Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Probolinggo dan Kota Probolinggo serta Kabupaten Lumajang, dilakukan melalui program APBN pada 2023.
“Kesadaran masyarakat untuk menggunakan gas bumi yang tidak disubsidi saat ini cukup tinggi. Apalagi ketika muncul pembatasan LPG 3 kilogram, kami berharap pemanfaatan jargas bisa semakin berkembang, termasuk untuk sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe) dan UMKM,” ujar Arif.
Di Kabupaten Lumajang, kuota awal pemasangan jaringan gas rumah tangga mencapai 4.020 Sambungan Rumah Tangga (SR).
Saat ini pelanggan aktif yang masih dikelola PGN sebanyak 2.777 sambungan.
Arif menambahkan, untuk memudahkan pelanggan, PGN juga menyediakan layanan pencatatan meter secara mandiri melalui aplikasi PGN Mobile maupun layanan WhatsApp resmi yang informasinya tercantum pada stiker pelanggan.
“Dengan kemudahan akses, tarif yang kompetitif, serta pasokan yang lebih terjamin dibandingkan LPG 3 kilogram yang kerap langka, jaringan gas bumi mulai menjadi pilihan masyarakat Lumajang untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga maupun mendukung aktivitas usaha kecil,” pungkasnya.(OPI)



