KABARENERGI.COM – Harga emas global justru mengalami tekanan dan penurunan tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) itu mencatat penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari satu dekade. Dikutip dari MarketWatch, Minggu (22/3/2026), kontrak emas paling aktif di Comex untuk pengiriman April 2026 ditutup melemah 0,7 persen atau turun US$30,80 ke level US$4.574,90 per ounce pada perdagangan Jumat (20/3/2026) waktu setempat.
Secara mingguan, harga emas anjlok hingga 9,5 persen. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak 23 September 2011, berdasarkan data Dow Jones Market Data.
Kondisi ini mencerminkan paradoks di pasar keuangan global. Alih-alih menguat sebagai aset aman di tengah konflik, emas justru terseret dalam gelombang aksi jual akibat tekanan yang lebih luas di pasar.
Head of gold and metals strategy global di State Street Investment Management, Aakash Doshi, mengatakan konflik Iran memang meningkatkan ketidakpastian global yang secara teori seharusnya mendongkrak permintaan emas. Namun, menurutnya, logam mulia tersebut “terkalahkan oleh kekuatan ekonomi yang lebih luas”.
Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Alih-alih berharap penurunan suku bunga, pelaku pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.
Selain itu, aksi ambil untung (profit-taking) dan kebutuhan likuiditas juga menjadi pemicu tekanan. Investor memanfaatkan emas sebagai sumber dana cepat untuk menutup kerugian di aset lain saat volatilitas meningkat.
Direktur strategi investasi senior di U.S. Bank Asset Management, Rob Haworth, menyebut minimnya prospek kenaikan harga ke depan turut melemahkan sentimen investor terhadap emas.
Ia menambahkan, kenaikan suku bunga membuat biaya peluang memegang emas—yang tidak memberikan imbal hasil—menjadi semakin tinggi. Kondisi ini membuat logam mulia gagal mendapatkan dukungan meski konflik geopolitik biasanya menjadi pendorong utama.
Sementara itu, Direktur Riset di BullionVault, Adrian Ash, menilai emas dan perak saat ini “terjebak dalam kepanikan pasar yang lebih luas”.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa faktor utama di balik penurunan tajam tersebut, antara lain margin call, peningkatan indikator risiko (value-at-risk), serta perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS.
Dalam kondisi pasar yang tertekan, investor cenderung menjual aset yang masih mencetak keuntungan untuk menutup kerugian di instrumen lain. Emas yang sebelumnya mencatat kinerja tahunan kuat pun menjadi salah satu sumber likuiditas utama.
Tekanan juga diperkuat oleh meningkatnya volatilitas di berbagai pasar keuangan global, yang memaksa pelaku pasar melakukan pengurangan posisi secara besar-besaran.
Selain emas, logam mulia lain seperti perak juga mengalami tekanan signifikan. Kontrak perak pengiriman Mei 2026 tercatat turun lebih dari 14 persen dalam sepekan dan ditutup di level US$69,66 per ounce pada Jumat.
Penurunan tajam harga emas dan perak ini menunjukkan adanya pergeseran dinamika pasar. Faktor makroekonomi—khususnya kebijakan moneter dan kebutuhan likuiditas—kini lebih dominan memengaruhi harga dibandingkan peran tradisional logam mulia sebagai aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian global. (HQE)



