ElectricityHeadlineRenewable Energy

Baterai LFP Lebih Murah, Apa Jurus RI Gencarkan Hilirisasi Nikel?

121
×

Baterai LFP Lebih Murah, Apa Jurus RI Gencarkan Hilirisasi Nikel?

Share this article
Foto: Ilustrasi kapal bermuatan nikel ilegal di Sulawesi Tenggara. (Dokumentasi Bakamla)
Foto: Ilustrasi kapal bermuatan nikel ilegal di Sulawesi Tenggara. (Dokumentasi Bakamla)

Kabarenergi.com, Jakarta – Di dalam proses produksi suatu mobil listrik, umumnya baterai menjadi salah satu komponen yang paling mahal. Karena itu, pemilihan jenis baterai akan memengaruhi harga jual suatu produk mobil listrik.

Sementara, ekosistem mobil listrik akan berkembang dan menarik minat masyarakat apabila harganya kompetitif. Terutama untuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Saat ini terdapat berbagai macam jenis baterai yang berkembang. Di antaranya seperti yang sempat mencuat belakangan ini usai debat Cawapres, yakni baterai berbasis Nickel-Mangan-Cobalt (NMC) dan baterai berbasis lithium ferro phosphate (LFP).

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM, Agus Tjahajana Wirakusumah, menjelaskan kedua jenis baterai ini dinilai mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Adapun jika baterai berbasis nikel mempunyai kandungan kepadatan energi (energy density) yang lebih tinggi, LFP mempunyai energy density yang lebih rendah. Artinya apabila kepadatan energi dari LFP ingin menyamai NMC, maka kapasitas baterainya harus diperbesar.

Namun dari sisi keekonomian, harga baterai berbasis LFP lebih murah dibandingkan dengan baterai berbasis NMC dan cocok untuk pasar Indonesia. Sehingga, menurut nya target market baterai mobil listrik seharusnya tidak hanya terbatas pada satu negara atau pasar dalam negeri saja.

“Itu betul sekali (LFP cocok untuk pasar Indonesia). Jadi pabrik baterai itu gak bisa hanya untuk skala negara. Mau LFP kek, mau NMC kek, mereka itu adalah kelasnya pasar internasional,” kata Agus ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (26/1/2024).

Di samping itu, Agus berpendapat apabila dirinya berada di Kementerian Perindustrian, maka penggunaan jenis baterai tidak akan terbatas pada jenis tertentu.

Read  SIG Ciptakan Terobosan, Gunakan 100% Bahan Bakar Gas Ramah Lingkungan pada Mesin Penggilingan di PT Semen Gresik

“Kalau saya di perindustrian gak batasi harus pakai NMC karena kita punya NMC orang nanti kabur. Silakan saja biar yang menentukan siapa atau ada laboratorium kita yang pintar bisa dapat NMC yang lebih,” ujarnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto menilai baterai berbasis LFP biasanya digunakan untuk mobil-mobil Tesla yang entry level atau murah misalnya seperti Tesla Model 3. Namun demikian, kelemahan dari baterai LFP ini kinerjanya bisa turun apabila berada di musim dingin.

Oleh sebab itu, ia memprediksi bahwa pasar baterai berbasis LFP akan berkembang di daerah tropis, termasuk sebagian besar Asia.

“Jadi kalau misalnya kita melihat ke depan ini akan terjadi regionalisasi jadi di Asia di negara negara yang tropis LFP ini bisa berkembang,” ujar Seto dalam acara Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Kamis (25/1/2024).

Meski demikian, Seto menilai Indonesia tak perlu khawatir dengan perkembangan LFP tersebut. Sebab seluruh investasi baru pabrik baterai di Amerika kebanyakan adalah berbasis nikel.

Pasalnya, baterai berbasis LFP biasanya hanya dapat digunakan untuk mobil-mobil yang entry level atau city car. Sementara orang-orang Amerika cenderung suka menggunakan mobil-mobil yang berdimensi cukup besar.

“Investasi baru baterai di Amerika itu kebanyakan nickel based, mungkin hampir 90%. Hanya satu yang antara Ford dan CATL yang pakai LFP tapi ketika saya ngobrol dengan Ford mereka juga menyampaikan kita bisa taruh di entry level tapi kalau mobil jenis SUV yang truk gak bisa pakai LFP jadi ini kelemahannya itu,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News